Tuesday, September 29, 2015

Sang Pereinkarnasi Tidak Ingin Curang. Bab 1 - Bagian 6.

Penterjemah Jepang ke Inggris:
Yukkuri Oniisan
Penterjemah Inggris ke Indonesia:
Yukkuri Oniisan


Bab 1. Apa Curang it Perlu?
Bagian 6

Badan raksasa. Cakar tajam. Lidah tebal yang menggeliat di dalam mulutnya, dapat terlihat di antara celah gigi geligi yang seperti gergahi.
Ukurannya sangat berbeda, bagian-bagian tubuhnya juga berbeda, namun tepat seperti yang dikatakan oleh Pak Swyn, sebuah Hewan Setan berbentuk seperti Buaya.


Nampaknya si buaya ini sedang terluka. Mungkin nanti buaya itu akan mencoba menyerang orang dengan tenaga sihir terbanyak.
Dengan perlengkapan kami sekarang, kami hanya dapat mengulur waktu saja, jadi Tuan Swyn mohon cepat bawa anak-anak lari menjauh.

Seperti yang diperintahkan Pak Kapten, Pak Swynsegera menarik tangan ku dan Gai.

Tidak masalah bahkan jikalau kalian berlambat-lambat. Kami tidak akan membiarkan hewan laknat ini begitu saja.

Dengan sebuah anggukan, kami segera berlari.
Aku tanpa sengaja melihat para Roh di sudut mataku, mereka terpaku memandang Hewan Setan sembari ketakutan.
Aku mendengar kalau Pemakan Sihir memakan semua jenis tenaga sihir.
Apakah mungkin, buruan hewan itu adalah anak-anak ini!?
Apakah aku harus membawa mereka bersamaku?
Akan tetapi jikalau aku bertindak gegabah, aku dapat menarik perhatian Hewan Setan.
Ah benar, kata-kata yang melayang di kepalaku sebelumnya, apakah mungkin aku dapat menghubungi mereka?

Ke sini. Datang ke sini.

Walaupun aku berusaha menyampaikan pesan di dalam pikiranku namun para Roh ketakutan dan tidak menyadarinya.
Atau pesannya tidak tersampaikan?

Mira

Gai berbisik padaku dan menarik tanganku.

Aku tahu. Tapi aku tidak bisa meninggalkan anak-anak itu begitu saja.

Karena aku tidak dapat menyampaikan kata-kata, apakah tidak ada cara lain........
Ah benar! Sewaktu di dalam kereta, nak itu dapat mendengar bisikan halusku. Mungkin........

Tolong datang ke sini.

Hanya seperti mendesah, aku berbisik seperti sedang berdoa.
Roh Angin terkejut dan melihat ke arahku.
Dia mendengarnya!
Suara pada dasarnya adalah getaran udara.
Seperti yang kuduga, Roh Angin sensitif terhadap suara.

Sembari berlinang air mata, Roh Angin memegang ujung pakaian ketiga Roh lainnya dan terbang ke arahku.
Para Roh yang kemudian tiba di dadaku, kupeluk dengan erat, akan tetapi pada sat itu juga Hewan Setan mengaum memekakkan telinga.

Datang!

Para Ksatria segera berlari.
Aku segera dibopong oleh Pak Swyn dengan kedua tangannya.

Lari!

Gai segera melesat seperti anak panah. Sementara Pak Swyn yang sedikit terlambat mulai berlari.

Oh angin, terimalah batu sihir ini, wujudkanlah permohonanku, berilah kami kecepatan!

Dengan sebuah mantera, batu hijau di gelang Pak Swtn segera megeluarkan tenaga sihir. Dari dalam tanganku, Roh Angin mengulurkan tangannya untuk menerima tenaa sihir tersebut. Tiba-tiba dengan bantuan angin, kecepatan kami meningkat.

Kerubungi dia!
Kalau kamu terkena serangan, segera mundur! Hentikan kakinya!

Sambil berteriak satu sama lain, suara senjata beradu dan auman Hewan Setan dapat terdengar di kejauhan.
Aku melihat ke arah belakang dari bahu Pak Swyn ke tempat yang cukup jauh itu, dan terkejut.
Pak Guze berusaha untuk menyerang Hewan Setan dengan pedangnya, namun mendadak sebuah kibasan ekor mengenainya dan mementalkannya.
Tanpa melewatkan kesempatan ini, dari sisi yang lain, Pak Kapten dan Pak Panama menusukkan pedang mereka ke kaki hewan tersebut.
Sembari mengeluarkan erangan, Hewan Setan mengangkat kakinya yang tertusuk tinggi-tinggi. Jika mereka kehilangan pedangnya maka mereka tidak dapat menyerang, oleh karena itu kedua ksatria segara mencabt pedang mereka sembari jatuh ke tanah sambil menghindar terinjak oleh kaki Hewan Setan.

Guroooooooooooooooooon!

Hewan Setan mengaum dan mengamuk.
Para Ksatria yang menerima pandangannya menjadi gentar.
Hewan itu kemudian mendekat.
Mendadak menendag tanah, Hewan Setan itu menyeruduk Pak Blum dan mementalkannya tanpa Ksatria lain dapat melihatnya. Terlalu cepat.
Seluruh tubuhnya dipenuhi dengan sayatan dan goresanyang basah dengan darah. Rahang raksasanya yang terbuka dipenuhi liur yang menetes keluar. Matanya membelalak merah darah tak bergeming, dia kelaparan.
Dan mangsanya adalah, aku.
Sewaktu aku menyadari hal ini, aku menjadi puct pasi.
Akan tetapi di dalam hatiku yang kebas, mulai dipenuhi kemarahan.

Yang benar saja!

Mira-san?

Aku mengatakannya dengan suara kecil, Pak Swyn memutar kepalanya ke belakang dan melihat Hewan Setan yang semakin mendekat, kakinya lalu terselip dan dia berhenti bergerak.
Aku menggeliat, membebaskan diri dari tangannya, lalu berdiri menghadapi Hewan Setan.

Mira! Pak Swyn!

Gai menyadari kalau kami berhenti berlari dan berteriak sekuat tenaga.

Apa yang kamu lakukan? Cepat lari!

Bahkan walaupun sedang terluka, Pak Kapten dan Pak Panama masih mengejar Hewan Setan.
Bahakan walaupun tulang mereka patah, Pak Guze dan Pak Blum masih berusaha untuk bangkit.

Yang benar saja.
Ya, yang benar saja...

Di kehidupan lampau aku tertabrak mobil dan mati. Di kehidupan kali ini aku akan dimakan Hewan Setan dan mati?
Gai punya tenaga sihir, Pak Swyn juga punya tenaga sihir, semua, semua.....

Aku tidak mau curang.
Tapi sekarang aku akan menghabisi si brengsek ini!

Aku mengangkat kepalaku dan membayangkan apa yang kuinginkan dalam benakku.

Terimalah tenaga sihirku, wujudkanlah permohonanku.

Aku membentuk tenaga sihirku dengan buru-buru dan melepaskannya keluar dari tangan kanan ku. Di depan mataku, tenaga sihir itu menjadi sebuah bola cahaya berwarna-warni yang besar.
Roh Tanah yang menerimanya mulai berubah.
Dari kerdil mungil menjadi bertubuh tinggi semampai.
Rambut keemasannya berayun oleh angin.
Aku mengangkat kedua tanganku tinggi ke angkasa dan seger menjatuhkannya.

Barikade.

Tanah menurut dan bergetar, dalam sekejab, suara gemuruh dapat terdengar seiring sebuah dinding dari tanah muncul.
Lebar 3 meter, tinggi 8 meter, tebal 7 meter di dasar dan 3 meter di puncak. Berbentuk seperti pemecah gelombang.

Karena dia tidak dapat menghentikan momentumnya, Hewan Setan menghantam dinding itu. Walaupun demikian, barikade berkepadatan tinggi tidak bergeming sedikitpun.

Ber-berhenti! Tapi masih belum cukup! Tidak peduli seberapa kuat dinding tersebut, hewan itu akan memakan tenaga sihir di dalamnya....
Bukan itu tujuan utamanya...
Eh?

Pak Swyn memusatkan pandangannya kepadaku
Terdengar suara gemuruh dan retakan.
Hewan Setan akan bangun walau gegar otak atau dia akan memakan tenaga sihir di dinding lalu keluar. Namun dia tidak membuat satu gerakan apapun.
Aku tersenyum lebar.
Luar biasa.

3, 2, 1, .......0

Guaaaaa!

Sewaktu hitungan mencapai nol. Terdengar sebuah suara tanah runtuh bercampur dengan suara erangan binatang.
Lalu sebuah suara suatu benda jatuh terdengar dari jauh.
Aku segera berjalan perlahan ke sisi lain barikde dan berdiri di tepi sebuah lubang.
Pak Swyn, Gai dan para Ksatria lain juga mendekati lubang itu dengan hati-hati.
Mereka tidak mengatakan apapun. Tidak masalah. Di tempat itu terdapat lubang berdiameter 5 meter, sebuah lubang yang teramat sangat dalam.
Didasar lubang tersebut adalah Pemakan Sihir yang terkejang-kejang. Masih belum mati rupanya.

...... Nona Kecil, lubang ini?
Tempat di mana tanah untuk membuat dinding berasal.


Untuk membuat lubang inilah aku membuat dinding.

Jika aku membuat lubang selagi ia masih jauh, Binatang itu akan menghindarinya. Jika dekat sekalipun, binatang itu akan melompatinya. Jadi aku membuat lubang untuk membuatnya berhenti, kemudian menjatuhkannya ke dalam lubang perangkap.

Terdapat kemungkinan kalau Binatang itu dapat berjalan di atas lubang, bukanlah sesuatu yang tidak mungkin.
Maka dari itu aku membuat tanah di atasnya runtuh sesegera mungkin, sehingga jika hitungan ku mencapai nol, penyangga yang menopang tanah tersebut akan hancur. Aku sudah memasukkan hal-hal ini ke dalam Imaginasiku sejak semula.
Untuk berjaga-jaga jikalau berat Hewan Seta itu di luar perkiraanku. Seperti yang mereka katakan, sedia payung sebelum hujan.
           
Betapa seram.
Ya, aku setuju. Binatang itu masih hidup, daya hidupnya yang menakutkan.
Bukan itu, yang aku maksud itu sihir Nona Kecil.
Ya benar. Untuk dapat membuat tenaga sihir sebesar itu, benar-benar melebihi apa yang aku bayangkan.....

Pembicaraan antara Pak Kapten dan Pak Swyn benar-benar tidak menyenangkan. Walaupun aku tahu akan akan diperlakukan seperti monster, aku tidak menyesali apa yang telah kuperbuat. Karena kalau tidak aku akan mati, tahu.
Walaupun mungkin aku akan bereinkarnasi kembali, apakah aku akan mengingat kehidupan ini dan kehidupanku sebelumnya?
Mungkin aku akan terlepas dari permasalahan ini. Walaupun mungkin aku akan bebas dari masalah, aku mungkin akan menyesalinya kelak di kehidupan mendatang. Oleh karena, kita tidak dapat mengubah masa lalu.

Ah, ya. Karena aku tidak punya hobi untuk membiarkannya menderita terlalu lama, mari akhiri penderitaannya .

Aku melihat ke arah Roh Tanah, dan dia kemudian menjawab dengan senyuman bahagia.
Dia berubah menjadi cukup tampan.
Omong-omong, setelah dia menerima tenaga sihirku dia bertambah besar.
Tangannya memanjang, tampang lucunya sekarang lebih kekar. Penampilan luarnya seperti 17-18 tahun. Tidak berbeda jauh dari manusia kecuali telinga runcingnya, walaupun demikian dia sangat tampan.
Roh Api dan Roh Air duduk di bahunya sementara Roh Angin bermain-main dengan rambut keemasan sebahunya.
Mata berwarna seperti Katilayu yang berbinar-bina melihat ke arahku.
Aura Ketampanannya begitu mempesona. Ke mana perginya si kecil yang menyegarkan jiwa?

Terimalah tenaga sihirku, wujudkanlah permohonanku.

Aku mengImajinasikan apa yang kuinginkan.
Aku tidak memerlukan tenaga sihir sebesar sewaktu aku membuat barikade. Jadi aku hanya membuat sekitar 1/5 dari tenaga sebelumnya dan mengeluarkannya dari telapak tanganku. Yang akan menerimanya adalah Roh Tanah.
Tapi, bagaimana yah? Jangan memasukkan tanganku ke dalam mulutmu!
Aku tidak seperti sedang memberi makan binatang. Gunakan tanganmu, tanganmu!

.........Kubur dengan Tanah, Kembali ke Semula.

Mungkin karena aku menggunakan terlalu banyak tenaga sihir, aku menjadi lelah. Tapi tidak apa-apa, sebentar lagi akan berakhir.
Dengan gemuruh, tanah dari barikade kembali mengalir ke lubang di mana mereka berasal. Setelah mengalir seperti ombak, tanah itu memadat seperti dilindas alat berat.
Sang Hewan Setan, Pemakan Sihir akan mati tergencet.

Jika tubuhnya tertimpa sedemikian banyak tanah seperti ini, dia tidak akan dapat bertahan dan hidupnya akan berakhir. Aku mengheningkan cipta sejenak.


☾☽☾☽☾☽☾☽☾☽☾☽☾☽☾☽☾☽☾☽


Bagian Sebelumnya | DaftarIsi | Bagian Berikutnya

5 comments:

  1. yukkuri orang indo toh
    salam kenal bro ^_^

    ReplyDelete
  2. Update bagian selanjutnya kapan kak? ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sorry.... sibuk......
      Karena udah ubah jadi translate versi Light Novelnya butuh waktu beberapa lama sampai terjemahan Indonesianya selesai....
      Karena prioritas utama masih untuk terjemahin Jepang ke Inggris.

      Delete